Meminjam Separuh Tubuh Lynch
Kepala
“Semua tidak biasa-biasa saja. Kau tahu kepala manusia adalah pabrik, mereka membangun nyala api di balik dahi. Membiarkan api itu menetes turun ke tenggorokan. Kisah dan kasihku, perut adalah kota yang sabar menampung hujan merah, tumpah enam kali setiap detiknya. Aku kerap bertanya mengapa ia mencipta enam lelaki dengan wajah berkabut lalu muntah cairan merah dan seolah sedang merayakan festival kebencian. Tubuh hanya kantong yang bisa terbakar kapan saja,” begitu ia berkata saat isi perut meluap seperti banjir cat minyak, memenuhi rongga dada dan sirene yang entah datang dari mana berkali-kali meraung seolah menuntut isi kepala ikut dimuntahkan ke udara.
(2025)
.
Lengan
“Gelembung air menari di dasar panci, uap panas menyimpan rahasia yang tak pernah sempat dicecap. Mereka bilang quinoa hanya butuh dua cangkir air untuk satu cangkir biji. Tapi ia tak tahu di sela-sela mendidihnya air selalu terselip suara langkah pria berwajah abu yang mengetuk pintu kamar hotel pada pukul setengah dua pagi memanggil-manggil nama secara acak. Ia menerka tentang biji-biji di lorong hotel, bau karpet lembab dan cerita darah di wajah orang asing. Dapur bisa jadi panggung bagi hal-hal tak diduga,” ujarnya saat sendok kayu berputar perlahan menggeser asap bergulung dan dengan lincahnya ia menjelaskan sepanjang 20 menit soal resep masakan alih-alih menjawab teka-teki tubuh di selubung makna cerita.
(2025)
.
Kelingking
“Terdengar derit engsel pintu saat kenop gagang diputar. Di dalamnya: beraneka rupa trauma. Daging manusia punya warna yang tak pernah bisa ditemui di katalog cat. Lorong gelap tempat perempuan itu menangis adalah tempat di mana waktu menjelma kelingking terjepit di sela sirene petugas keamanan yang tak pernah memberi rasa aman. Mereka mencipta kejahatan tak hanya berhenti pada darah, menjalar ke wajah orang-orang bernanah. Tak ada yang benar-benar selesai,” ia mengucap saat lampu berkedip memotong malam, menelanjangi setiap rahasia umum pembungkaman.
(2025)
.
Mata
“Seekor koyote mestinya bergerombol dalam kawanan terbatas atau sendirian di gurun, rawa-rawa dan padang lepas tapi kini ia ada di kamar hotel malam ini. Angin padang pasir membawa rahasia yang tak pernah sempat kita tanyakan dan mereka bilang koyote adalah pencuri angin, padahal tak ada angin padang pasir, adanya angin dari mesin pendingin yang terus menderu berlarat-larat. Koyote berlari berhamburan demi sisa tulang atau anyir darah tertinggal. Kini Koyote kebingungan ada dalam kamar hotel yang lembap dan gelap. Dalam matanya ada sesuatu yang lebih lapar daripada sekadar perut kosong. Ia menatap balik ke kamera seolah memeriksa siapa di antara kita yang akan lenyap lebih dulu. Aku melihatnya, bulu kusam berkibar di tiupan debu, tubuh kurus rahang tirus dan diam panjang menetes di antara dengung angin. Matanya memendam teriakan panjang. Segala di ruangan ini bisa berubah menjadi rawa-rawa penuh rahasia,” sergahnya saat koyote bergeser perlahan menatap sekali lagi dan malam yang terbuat dari pasir tinggal lebih lama di matanya.
(2025)
.
Kaki
“Seekor laba-laba menunggu, lebah datang bertamu dan alam tak pernah mengenal kata iba. Mereka bilang lebah adalah penjaga bunga pembawa kabar manis, tapi mereka tahu kisah kasih sahihku, di balik bening matanya tersimpan sengatan yang tak segan menusuk. Lebah itu masih menggeliat saat kaki-kaki laba-laba merangkul tubuhnya, mengikatnya dengan benang halus seperti membungkus waktu agar dunia tak beranjak ke mana. Keindahan bunga sekaligus rasa lapar seekor pemangsa yang begitu sabar. Segala di alam bisa berubah menjadi tontonan kelam dan begitulah adanya,” demikian ucapnya saat serat-serat jaring melilit makin rapat tubuh lebah dan kesunyian memeluk pertunjukan ini.
(2025)
.
Hidung
“Seekor tikus mati tergeletak di tanah. Kematian selalu memiliki ritme dan pola. Mereka bilang tikus hanya hama, pemburu remah-remah kegelapan, tapi mereka lupa tentang rantai makanan. Rantai yang sedang melilit tikus kami. Tubuhnya ladang pesta bagi gerombolan. Aku melihatnya berulang meski muntah coba ditahan, semut-semut merambat di bulu-bulu tikus masuk ke celah daging seolah bumi membuka jalan agar segala yang hidup cepat kembali ke tanah. Kawanan itu melata bersama menggerogoti tikus tanpa suara. Segalanya diurai menjadi lebih kecil,” ujarnya saat kerumunan hitam merambat makin rapat menutup bagian mata dan bau amis menyengat turut serta memenuhi rongga hidungnya.
(2025)
.
Gigi
“Tiga kelinci berdiri di ruang tamu remang, setelahnya kata-kata bisa jatuh satu demi satu ke lantai seperti gigi patah dan begitulah. Mereka bicara tentang hujan, api, sesuatu yang menunggu di balik pintu tapi tidak satu pun selesai diucapkan. Ada lampu sesekali mati, lalu tawa panjang terdengar dari tempat kosong. Suara derit pintu terbuka lalu ya sudah. Kadang salah satu kelinci menoleh cepat, seolah mencium bau daging terbakar. Ada dengung yang membuat telinga bindeng dan hidung pengar. Aku melihat mata mereka berkedip sangat lambat seolah kita harus terjaga terus di ruang ini. Tidak ada yang benar-benar duduk tidak ada benar-benar berdiri. Itu bukan suara hujan, bisik salah satu sambil meremas ujung gaun. Malam terus mengulang kalimat yang tak pernah dipahami dan dinding-dinding rumah tampak bergerak sedikit lebih dekat setiap kali lampu menyala,” ia menceritakan malam ini kepada anaknya sebelum bertemu kelinci lainnya di mimpi yang diidam-idamkannya semasa kecil.
(2025)
.
Bibir
“Aku mulai curiga mungkin bukan soal siapa membunuh siapa, tapi tentang cinta kerap jatuh di tempat ganjil, tentang janji terucap di peron gelap, tentang betapa mudahnya kita menukar nama, menukar wajah agar rasa bersalah bisa bersembunyi lebih lama. Matanya menyimpan lebih banyak kebohongan daripada manusia mana pun. Dia bicara seolah semua potongan hidupnya terbuat dari film noir yang tidak pernah selesai. Aku melihat bibirnya memuntahkan kata-kata yang terasa seperti batu dilempar ke sumur tak berujung. Tak ada yang benar-benar menjawab siapa akan mati atau mengapa darah bisa menodai kerah jas. Segala hal di ruangan ini terasa seperti jebakan,” detektif itu berbisik lirih lalu mencondongkan badan menatap sepasang mata licin dan bayangan dari belakang telah melingkari kursi dingin.
(2025)
.
Jantung
“Kita terlahir dan hidup di dalam sebongkah keju dan kawanan semut menentukan pembentukannya. Tak semua rongga tercipta sekadar untuk udara dan barisan semut telah sibuk mengukur siapa layak bertahan, siapa mesti dilumat menjadi serpihan. Ada dengung rendah di udara. Menata retakan seolah setiap gigit mereka bisa mengubah peta dunia. Barangkali kita semua hanya jantung susu yang dibiarkan busuk pelan-pelan demi tekstur demi rasa demi ilusi bahwa kita masih utuh,” ucapnya saat kawanan itu terus bolak-balik di labirin keju, melumat kemewahan terakhirnya hingga tandas.
(2025)
______________________
Oleh: Galeh Pramudianto |
Lahir Juni 1993 dan berdomisili di Tangerang Selatan. Sehari-hari mengajar di Tzu Chi School. Puisi-puisinya telah diterjemahkan di Jurnal Mantis, Stanford University dan Arkansas International. BukunyaAsteroid dari Namamu (2019).
---------------------------
Ilustrasi: The Kitchen (James McNeill Whistler), dari WikiArt.org.
Catatan: puisi-puisi tersebut terilhami dari film-film pendek David Lynch yaitu Six Men Getting Sick (1967), Premonitions Following an Evil Deed (1995), Coyote #1″ (2002), Dead Mouse with Ants (2002), Rabbits (2002), David Lynch Cooks Quinoa (2007), What Did Jack Do? (2017), Ant Head (2018) dan The Spider and the Bee (2020).

0 Comment: