Makhluk Malang dalam Karung
Tangannya yang tak memegang karung langsung mencari batu dan melemparkan ke titik yang ia curigai sebagai tempat burung itu sembunyi.
Puq Sideq tak bertanya apa-apa. Ia langsung menerima karung yang telah berwarna cokelat dan terikat ujungnya dengan tali rafia itu lantas pergi; agak terhuyung-huyung, sebab sakit tuanya tak sepenuhnya sembuh. Karung yang telah lama berubah warna karena kotoran sapi itu terayun-ayun di samping kanan tubuhnya; ia menyertai langkah demi langkah kakinya dengan dengusan, seakan dengan itu ia menahan tubuhnya agar tidak ambruk. Barangkali sebab hanya karena dengusan itu dan tak ada benda nyata seperti tongkat, tubuhnya beberapa kali benar-benar tak mampu tegak berdiri saat ia harus melewati jalan-jalan terjal dan licin dari Lelenggo ke desa; jalan yang kerap memakan korban, melemparkan para pengangkut kayu ke dasar jurang dan memberikan kelumpuhan di sisa usia mereka.
Puq Sideq berjalan menyusuri jalan setapak yang meliuk-liuk itu, sendirian. Ia terkadang berhenti saat mendengar suara burung. Ia mendongak, memandang daun-daun yang berkilauan karena ditimpa cahaya matahari, melihat ranting-ranting dan berusaha menembus semak-belukar, sampai ia betul-betul yakin bahwa burung yang mengirimkan suara ke telinganya itu ada di situ. Tangannya yang tak memegang karung langsung mencari batu dan melemparkan ke titik yang ia curigai sebagai tempat burung itu sembunyi. “Mati kamu,” katanya.
Di suatu tempat yang tak jauh dari dirinya, burung itu berhenti bersuara. Puq Sideq hanya mendengar suara sayap burung yang terbang cepat, menghindari dirinya.
Makhluk lain, bergerak-gerak di dalam karung yang ia pegang dengan erat; berusaha melepaskan diri. “Tunggu sebentar lagi, kita masih di jalan,” kata Puq Sideq kepada makhluk malang di dalam karung.
Si Malang tengah melekat di dahan pohon mangga madu persis di sudut halaman seorang warga ketika Puq Sideq lewat—dengan terhuyung-huyung dan berdehem-dehem. Ia mendongak melihat daun pisang tawar yang lebar-lebar terayun-ayun di ujung utara. Ia memandang cukup lama, penuh minat, persis seperti bocah-bocah Lelenggo yang terpana melihat roket pertama kali melesat di langit. Jika ada yang melihat Puq Sideq seperti itu, pasti ia akan disangka sangat kelaparan sampai ingin sekali memakan daun-daun pisang itu saat itu juga. Ia berdiri cukup dekat dari pohon mangga tempat si Malang tengah melekat, memejamkan mata. Dan, Puq Sideq dibuat terkejut begitu terdengar suara si Malang beberapa saat kemudian, “Tok..kek, tok..kek..”
Puq Sideq mencabut pandangannya dari daun pisang dan memandang ke arah daun-daun mangga di sebelah kanannya. Ia bergeser sedikit, melihat bagian lain. Tak terlihat apa-apa. Matanya telah cukup tua dan karena itu ia sering sekali tak mengenali orang-orang yang lewat di depannya; itu terjadi saat ia masih gemar duduk-duduk di tepi jalan, di depan rumah anak laki-lakinya. Meskipun ia tak melihat apa-apa, ia tahu di dahan mangga madu itu berada seekor tokek, yang jika didengar dari suaranya, pasti tokek yang sangat besar.
Satu dua warga di kampung tengah sibuk dengan urusan masing-masing; mengasah parang, memperbaiki keroncong sapi, ada juga yang duduk di halaman menumbuk kulit kayu kesambiq untuk membuat tuak sore nanti. Puq Sideq melihat sekitar dan tak seorang pun yang bisa ia panggil. Ia tahu, orang-orang yang tengah sibuk dengan urusan masing-masing sangat tidak menyukai keberadaannya di Lelenggo dan ingin segera mengirimkannya ke tempat asalnya. Ia tak perlu susah payah untuk mengetahui hal itu karena orang-orang yang tengah sibuk dengan urusan masing-masing itu telah menyampaikan dengan berterus terang kepadanya; dari sejak ia sedang gemar duduk di tepi jalan di dekat rumah anak laki-lakinya hingga saat ia mulai gemar berjalan kaki dengan terhuyung-huyung.
Nasib baik mendekatinya. Ia sampai mengucapkan kata-kata penuh syukur, hal yang tak pernah terlontar dari mulutnya; hal yang membuat orang-orang yang tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing sampai tertawa, bahkan laki-laki yang tengah menumbuk kulit kayu sampai terpingkal-pingkal. Saat Puq Sideq tengah celingak-celinguk mencari cara untuk menangkap tokek di pohon mangga madu itu, seorang pemuda datang dari selatan. Rumah pemuda itu jauh di timur kampung, tetapi ia sering ke datang ke rumah laki-laki yang menumbuk kulit kayu kesambiq.
“Uang, uang… uang besar,” sambut Puq Sideq dengan suaranya yang besar, bergema. Suara yang membuatnya sering dipanggil Maq Geropo karena suaranya yang tebal menggetarkan itu.
Bayangan tentang uang itu melintas terus-menerus dari sejak ia mendengarkan suara tokek sampai ia berjalan ke desa menenteng karung kumal cokelat yang dipungut pemuda yang membantunya menangkap tokek itu dari kandang sapi. “Tunggu sebentar lagi sampai, kita akan dapat uang banyak,” katanya. Ia terengah-engah karena perjalanan ke desa cukup jauh, harus pula melewati dua sungai yang cukup besar, juga sebuah jembatan bambu yang tak jarang melemparkan orang yang lewat di atasnya dan menimpa batu-batu di bawahnya.
“Tapi, saya akan menjualmu,” katanya, lagi. Makhluk malang di dalam karung itu tak menjawab. Namun, Puq Sideq tetap melontarkan kata demi kata, terkadang ia mengungkapkan hal-hal yang sekalipun tokek di dalam karung itu bisa mendengar, tak akan dapat memahami persoalan-persoalan yang ia ungkapkan. Ia menceritakan suatu masa yang lalu ketika ia menjadi orang terkuat di kampung dan dapat uang banyak dengan mengumpulkan aneka macam hasil bumi. Sampai kemudian, nasibnya berubah, ia tak diperlukan, karena kehadiran sepeda motor membuat orang-orang yang lemah, kurus dan pucat, mampu mengangkut segala hasil bumi lebih banyak ketimbang dirinya yang berbadan kekar.
“Saya tahu ilmu Nabi Sulaiman, saya tahu apa yang kamu pikirkan,” kata Puq Sideq kepada tokek di dalam karung yang ia tenteng.
Kemudian, ia berbicara mewakili si tokek. Ia menyampaikan pandangan buruknya tentang manusia-manusia di sekelilingnya; tentang tiga anaknya yang telah ia besarkan dengan susah payah tetapi kemudian sekadar sepiring nasi pun tak dapat ia terima tanpa terlebih dahulu menerima sumpah serapah mereka dan kutukan yang menyebutkan dirinya sangat tidak berguna.
“Mereka lupa, mata mereka bisa terus terbuka sampai sekarang itu karena saya,” teriaknya.
Tak diduga, ia menyampaikan pujian yang besar kepada pemuda yang datang dan membuatnya sampai melontarkan kata-kata penuh syukur seakan seluruh beban hidupnya telah terangkat dari dirinya. Pemuda yang dengan keahliannya dapat membuat kelengar tokek yang tengah melekat di dahan pohon mangga hanya dengan serobek tembakau susut milik warga yang tengah memperbaiki keroncong sapi. Tokek itu dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam karung, lalu pemuda itu memberikan sentuhan terakhir dengan memungut sepotong tali rafia dan mengikat karung kumal itu sebelum menyerahkan ke Puq Sideq.
Puq Sideq dengan senyum sangat mekar menerima karung itu dan langsung berjalan ke desa saat itu juga.
“Uang besar, uang besar,” katanya, berjalan menjauh, terhuyung-huyung.
Puq Sideq tak tahu seberapa besar tokek di dalam karung itu. Ia tak berani pada tokek, dan ia tak perlu membuka ikatan karung itu sebelum ia sampai di desa. Ia yakin, dari suaranya tokek seperti itulah yang dicari oleh tukang suntik; yang datang setiap tiga hari sekali, memasukkan cairan ke tubuhnya, lalu memberinya segenggam obat untuk menghilangkan rasa sakit rematik yang ia derita. Dari tukang suntik, Puq Sideq mendengarkan cerita tentang orang-orang di desa yang mendadak kaya karena tokek yang dibayar dengan harga sangat mahal; sangat mahal sampai-sampai uang yang ia hasilkan selama hidupnya sungguh tak sebanding.
Harapan itu tumbuh menjulang sampai seakan-akan menerbangkan tubuhnya secepat mungkin ke desa. Sejak ia sakit lima tahun lalu dan meninggalkan rumahnya di kebun lalu hidup berpindah-pindah dari satu anak ke anak yang lain, ia tak pernah berjalan jauh, kecuali hari ini. “Nanti kalau kamu sudah saya jual, mereka pasti datang merengek-rengek ke saya minta uang,” katanya.
Ia tak pernah ke rumah tukang suntik tetapi ia tahu di mana rumahnya. Ia begitu tergesa-gesa sampai membuatnya hampir terlempar ke sungai saat melewati jembatan bambu yang berderit-derit. “Nanti saya perbaiki jembatan ini kalau kamu sudah saya jual,” katanya kepada tokek yang ia tenteng; yang tetap diam saja, tak menyahut. “Kamu jangan takut. Nanti kamu akan dapat makan banyak, enak-enak, lebih enak dari makanan saya,” lanjutnya.
Ia begitu tak sabar untuk menyampaikan hasil temuannya, karena itu, ia bahkan berteriak-teriak begitu sampai di desa, membuat tukang suntik yang tengah membersihkan jarum-jarum suntiknya merasa kaget; karena ia kenal sekali siapa pemilik suara itu. Baginya, hanya satu orang di dunia ini yang memiliki suara setebal itu. “Sideq,” katanya kepada dirinya sendiri.
“Ini yang kamu cari-cari, uang besar, uang besar,” kata Puq Sideq begitu melihat tukang suntik.
Tukang suntik membuka ikatan karung sebelum mempersilakan Puq Sideq duduk, yang tengah berdiri terengah-engah tetapi wajahnya memerah sumringah. Tanpa mampu mengendalikan diri tukang suntik langsung berkata, “Ini? Tokek ini?” Tukang suntik berhenti sejenak oleh tetangganya yang berdiri dekat rumahnya, penasaran. “Tokek ini hanya sebesar kelingking saya. Ndak ada yang beli!”
Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu dari teras depan rumah mereka tak bisa menahan tawa; dan tak bisa melupakannya hingga jauh kemudian. Puq Sideq tak berkata apa pun. Ia kembali, menempuh jalan yang sama. Melewati jembatan bambu yang batal ia perbaiki, dua sungai besar, dan jalan setapak yang meliuk-liuk di bibir jurang. Ia tak sabar untuk sampai di Lelenggo. Ia telah merangkai kata-kata paling keji di dalam kepalanya. Tak ada satu pun orang paling jahat baginya selain si pemuda, yang tadi telah membantunya menangkap tokek itu. Ia merasa si pemudalah biang dari semua yang ia alami.
“Setan!” labraknya setelah sampai di Lelenggo. Si pemuda tengah duduk di berugak, menenggak tuak.
“Setan apa?” jawab si pemuda enteng.
“Kenapa kamu ndak bilang tokek itu kecil?”
Sekali lagi, para warga yang tertarik dengan peristiwa itu dibuat tertawa terpingkal-pingkal dan membuat mereka tak bisa melupakannya hingga jauh kemudian.
Terhuyung-huyung, Puq Sideq berjalan ke utara, sejak saat itu ia tak pernah lagi terlihat di Lelenggo.
Ilustrasi: Seated Old Man (Pablo Picasso), dari WikiArt.org.
Penulis: Arianto Adipurwanto |
Lahir di Selebung, Lombok Utara, 1 November 1993. Kumpulan cerpennya berjudulBugiali (Pustaka Jaya, 2018) masuk 5 besar prosa Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2019. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, NTB.

0 Comment: