English Soccer News gives you the latest news about soccer match in Europe and UK. Enjoy!

Pohon Purba Berdahan Pelangi Berdaun Bintang

 Yanusa Nugroho Gabungkan Wayang dan Mahabharata: Apakah Berhasil?

Oleh: Lolik Apung

Pohon Purba Berdahan Pelangi Berdaun Bintang karangan Yanusa Nugroho menjadi buku ke-67 yang dibincangkan di Klub Buku Petra. Berlangsung di Perpustakaan Klub Buku Petra, Lantai III Apotek Wae Laku Ruteng, kegiatan ini dihadiri oleh 5 peserta: Retha Janu, Beato Lanjong, Armin Bell, Greis Katarina, dan Lolik Apung.

Lolik Apung yang bertindak sebagai pemantik pertama-tama meng-highlight keseluruhan isi novel.

“Novel ini bercerita tentang perjalanan tokoh Karna dalam menemukan jati diri. Ia dibesarkan dalam lingkungan besar kerajaan Hastinapura oleh seorang sais kerajaan yang bernama Radea dan istrinya. Mereka menemukannya di sungai Limanbenawi (hal. 77-80), setelah dilarungkan oleh Kunti, ibu kandungnya, yang menjabat sebagai putri kerajaan Hastina (Bab 5). Ia kemudian memilih menjadi prajurit kerajaan (hal. 105), yang ditugaskan pertama kali dibawah pimpinan Gajah Sura, seorang komandan berpengalaman di Hastina. Gajah Sura berhasil membuka pintu pertama bagi Karna untuk menemukan kekuatan yang dimilikinya (hal. 120), yang justru menjadi awal perjalanannya mencari jati diri. Ia mencari Resi Parasu, seorang rama yang menempa Karna menjadi senjata yang mematikan sekaligus menjadi manusia setengah dewa (hal. 150, 300).”

“Karna kemudian kembali ke Hastina (hal. 364). Hastina tidak mengenalnya hingga ia bertanding ‘memanah’ dengan Arjuna, salah seorang putra Pandu. Di arena pertandingan, ia dihina, sebab Karna yang dibesarkan dalam lingkungan jelata tidak memiliki kepantasan untuk bertanding dengan seorang pangeran. Saat itulah, Duryudana, calon raja muda pengganti Drestarastra, Ayahnya yang buta maju dan mengangkat Karna sebagai senapati Hastina yang memiliki kedudukan yang sama dengan para pangeran dan ksatria kerajaan (hal. 412). Hal ini di kemudian hari menjadi jebakan bagi Karna, sebab ketika perang saudara di lingkungan kerajaan Hastina meletus, Karna membela panji Kurawa dibanding membela panji Puntadewa. Ia berperang melawan saudara-saudara kandungnya sendiri. Kisah ini berpuncak pada pertempuran antara Arjuna vs Karna (hal. 590).”

Menurut Lolik, Yanusa Nugroho menghadirkan eksperimen kisah pewayangan dari budaya Jawa dengan epos Mahabharata dari India kuno. Penggabungan dua latar budaya ini bisa menjadi tantangan bagi pembaca yang belum membaca kisah pewayangan maupun epos Mahabharata. Lebih lanjut menurut Lolik, eksperimen ini menjadi usaha pencarian/pengukuhan identitas kepenulisan Yanusa, yang memang dikenal selalu ingin melampaui batas-batas atau nilai-nilai dalam karya-karyanya. Kecendrungan ini diwakili tokoh Karna.

Baginya juga cara bercerita Yanusa yang sastrawi membuat novel ini bisa menjadi potongan-potongan dongeng yang enak dibacakan kepada anak-anak, meski nama-nama tokoh yang terlalu banyak dan sulit diucapkan bisa menjadi kendala untuk memahami alur novel ini. Sebagai pertanyaan pemantik, Lolik mengajak peserta yang lain untuk menafsir maksud dari judul buku ini.

Pebincang kedua adalah Beato Lanjong. Ia tertarik dengan Pohon Purba Berdahan Pelangi Berdaun Bintangkarena cara bercerita Yanusa yang mengalir. Meski berlapis-lapis, penulis mampu memakai bahasa naratif yang membuatnya cukup dapat dinikmati.

“Kisah tentang kerajaan mempengaruhi gaya bertutur: mengisahkan banyak hal, tetapi cepat melompat dari satu peristiwa ke peristiwa lain,” kata Beato.

Baginya, kelemahan buku ini adalah nama-nama tokoh agak sulit diucapkan sehingga agak sulit juga diingat. Selain itu, perpindahan cerita yang cepat juga membuat Beato kesulitan mengingat cerita yang bermakna. Meski demikian ada beberapa tokoh yang menarik perhatian Beato, seperti Karna dan Sarpa. Ia menyukai Karna sebab ia digambarkan sebagai manusia sekaligus juga sebagai dewa. Ia menyukai Sarpa karena gambaran raksasa Sarpa tampak tidak sesangar persepsi raksasa dalam cerita-cerita yang biasa dia jumpai.

Selanjutnya giliran Grace Katarina. Ia tidak membayangkan jika Karna adalah anak Kunti. Ia mulai menyukai bagian ketika Kunti bertemu mata dengan Karna di awal kisah (hal. 9). Grace menyukai cara Yanusa memvisualisasi cerita. Penggambarannya membawa Grace pada kisah The Hobbit. Cerita digerakkan oleh balas dendam, manipulasi, perebutan takhta kerajaan, dan bahkan oleh cinta.

Grace menyukai buku ini karena cara berceritanya yang menawarkan banyak dongeng, meskipun ia sendiri mengeluh karena nama-nama karakter yang terlalu banyak cukup memberinya kesulitan untuk membedakan satu karakter dengan karakter-karakter lain, kecuali karakter-karakter yang disukainya seperti Kunti, Nakula, dan Sadewa. “Sedangkan tentang judul buku ini, saya menafsir pohon purba sebagai cerita legenda berbobot yang menawarkan berdahan pelangi berdaun bintang, menawarkan banyak nilai dan perspektif,” tutupnya.

Setelah Grace, Armin Bell mendapat giliran menyampaikan pengalaman membacanya. Armin melihat terlalu banyak hal yang diceritakan sehingga menyulitkannya menemukan penghubung yang ringkas antara satu bagian dengan bagian cerita yang lain. Model pembabakan dalam Pohon Purba Berdahan Pelangi Berdaun Bintangjuga membuatnya tidak bisa menikmati buku ini.

Selain itu, menurutnya Yanusa Nugroho seperti enggan memadatkan peristiwa. Beberapa kisah perang dituliskan dengan begitu detail, meski kisah itu tidak mempunyai hubungan langsung dengan tokoh utama. Keputusan penulis memakai sudut pandang orang serba tahu juga dirasanya membuat tokoh-tokoh dalam novel tidak memiliki suara sendiri. Tokoh-tokoh itu dirasa mewakili cerita besar dalam bentuk suara kerajaan, suara budaya, hingga suara penulis sebagai dalang wayang.

“Mengambil cerita besar lalu menulisnya dengan cara sendiri juga memiliki risiko bagi pembaca yang mengenal konteks maupun bagi pembaca yang tidak mengenal konteks,” tutupnya.

Retha Janu menjadi pebincang terakhir. Etak tidak begitu banyak mengomentari isi buku ini. Ia hanya berharap agar buku-buku yang dipilih untuk bincang buku, memakai suatu sistem kurasi yang baik, sehingga pembaca boleh mengalami sesuatu yang berbeda dari bincang buku yang satu ke bincang buku yang lain.

Peserta sepakat untuk menyematkan bintang 3,5 pada novel ini. Semuanya sepakat juga jika Yanusa Nugroho berusaha untuk melukiskan perjalanan hidup Karna, yang kemudian berisiko pada perjumpaannya dengan banyak orang yang memiliki kisah masing-masing


0 Comment:

Label